Header Ads Widget

Ticker

6/recent/ticker-posts

SUDUT NEGERI, DI MATA PANDEMI


 

Dimasa pandemi seperti sekarang, imunitas tubuh merupakan sistem tubuh yang sangat perlu diperhatikan. Maka dari itu, pemerintah memberikan akses vaksinisasi covid-19 secara gratis. Namun, lain cerita bagi orang-orang pelosok di desa, yang masih terbawa isu tentang kematian pasca divaksin. Tapi kenapa jarang sekali kasus positif covid-19 di pelosok desa?.

Coronavirus atau disebut juga dengan virus corona merupakan keluarga besar virus yang mengakibatkan terjadinya infeksi saluran pernapasan atas, ringan, hingga sedang, seperti penyakit flu. Namun sebagian besar masyarakat di daerah pelosok tetap tidak takut dengan hal itu, masih banyak dari mereka yang sama sekali tidak mematuhi protokol kesehatan. Tindakan ini akan sangat membahayakan bagi diri mereka dan juga sekitar.

Namun anehnya, kasus covid-19 di daerah pelosok sangatlah minim. Bahkan kalaupun ada yang dinyatakan postif, itupun adalah mereka yang datang dari kota-kota besar. Banyak para perantau yang terpaksa pulang ke desa dikarenakan pekerjaan mereka terhenti karena situasi pandemi.

Meskipun demikian, sangat jarang presentase orang-orang pelosok yang terpapar virus corona dari para perantau luar kota yang dinyatakan covid-19, bahkan keluarganya sendiri pun aman-aman sahaja. Lantas apa rahasia dibalik itu semua? apakah orang-orang di pelosok desa punya semacam jimat atau kodam untuk kebal dari virus corona?.

Semua orang pastinya ingin menikmati kehidupan sebelum pandemi ini terjadi. Mereka ingin beraktifitas seperti layaknya setengah tahun yang lalu. Dapat leluasa mengelilingi bumi. Hal ini justru telah dilakukan di wilayah pelosok desa. mereka beraktifitas, berkumpul, bercanda ria tanpa memikirkan akan mati tergeletak terkena virus covid-19. Berikut adalah cara mereka bertahan di tengah maraknya penyebaran virus covid-19

Yang pertama, masyarakat di wilayah pelosok dinilai sehat dalam menjaga pola kesehatan mereka, dengan bangun diwaktu sebelum subuh. Mereka rutin menjalankan ibadah sholat subuh dengan berjamaah atau sendiri tepat waktu. Dilangsir dari idntimes.com, di waktu tersebut sistem pernapasan bekerja secara optimal. Oleh karena itu, bangun di waktu subuh dan menghirup udara pagi baik untuk kesehatan paru-paru.

Tidak hanya itu, penelitian menunjukkan bahwa paru-paru melakukan detoks pada pukul 03.00 hingga 05.00. Waktu itu adalah saat terbaik bagi penderita batuk untuk mengeluarkan lendir penyebab batuk.

Yang kedua, olahraga sambil bekerja. Masyarakat di wilayah pelosok mayoritas berprovesi sebagai petani. Aktivitas petani yaitu mencangkul, menanam, menyirami, dan lai-lain ternyata menyimpan banyak sekali manfaat, antara lain, menurunkan berat badan, menurunkan resiko penyakit jantung, meningkatkan daya tahan tubuh, menjaga kesehatan otak, meningkatkan koordinasi dan kekuatan tangan

Yang ketiga, pola makan masyarakat di wilayah pelosok cenderung sehat dan hasil dari tangan sendiri. Di wilayah pelosok jarang sekali terdapat makanan-makanan yang terdapat di kota-kota besar sepeti pizza, hamburger dan lain-lain, yang dinilai kurang sehat bagi kesehatan, dan cenderung merogoh kocek yang cukup mahal. Makanan hasil dari kebun atau peternakan sendiri, lebih higienis tanpa ada perniagaan dari luar wilayah, yang dikhawatirkan dapat menjadi sarana penyebaran penyakit.

Yang keempat, masyarakat di wilayah pelosok masih minim akan akses teknologi yang didominasi oleh maraknya jejaring social media di masa masa pandemi seperti ini. Yang mana, di lingkungan sosial media sendiri, lebih banyak konten yang berbau negatif daripada positif, tentang situasi dan kondisi di masa pandemi. Hal ini, tentu saja akan mempurburuk kondisi mental seorang pengguna social media, karena kecemasan yang berlebihan. Berbeda dengan masyarakat di wilayah pelosok yang minim akan akses teknologi, mereka tidak cenderung mudah melihat konten-konten negtife tersebut. Justru hal inilah yang menyebabkan mereka terhindar dari kondisi kecemasan yang berlebihan.

Yang kelima, Akses mobilitas di wilayah pelosok dirasa sulit. Memang benar, bahwasamya akses untuk keluar masuk di wilayah pelosok kurang memadai, bahkan bisa dikatan ekstrim. Masih banyak jalan yang berlubang, dan hanya berupa bebatuan dan tanah. Namun, meskipun demikian hal ini justru membawa dampak yang positif di masa pandemic seperti sekarang. Kurangnya akses mobilitas ini, membuat para orang-orang dari luar merasa enggan melewati jalan dan siggah di wilayah pelosok. Akibatnya, presentase pendatang dari luar wilayah berkurang.



Daftar Pustaka

Yulintia Iswandiari. 2020. “5 Manfaat Berkebun Bagi Kesehatan Fisik dan Mental”, https://hellosehat.com/mental/stres/5-manfaat-berkebun-bagi-kesehatan/

Izza Namira.2019.” 7 Manfaat Setiap Waktu Salat Wajib untuk Kesehatan Kamu, Menakjubkan!”, https://www.idntimes.com/health/fitness/izza-namira-1/manfaat-setiap-waktu-salat-untuk-kesehatan/7

Posting Komentar

0 Komentar