Header Ads Widget

Ticker

6/recent/ticker-posts

Santri dan Tantangan Peradaban Di Era Revolusi Industri 4.0

    Era revolusi industri 4.0 atau revolusi industri dunia keempat ini merupakan sebuah era kemajuan teknologi dimana kita manusia dihadapkan dengan kehidupan yang menekankan penggunaan teknologi digital. Di era ini teknologi berkembang secara cepat mengubah cara hidup kerja manusia dan menuntut semua kehidupan di dunia berbasis teknologi digital. Transformasi digital dan pemanfaatan teknologi menjadi identitas revolusi industri 4.0. Teknologi informasi menjadi basis dalam kehidupan manusia. Semuanya tanpa batas dengan penggunaan daya dan data komputasi tak terbatas, karena dipengaruhi oleh perkembangan Internet dan teknologi digital masif sebagai pusat inti gerakan manusia dan mesin serta konektivitasnya. Berkembangnya revolusi industri 4.0 ini ditandai dengan adanya digitalisasi manufaktur yang diakibatkan oleh kekuatan komputasi dan konektivitasnya serta kecerdasan buatan.
    Perubahan teknologi digital ini tidak hanya terpacu pada satu sisi atau satu bidang saja, akan tetapi mencakup dalam segala bidang. Mulai dari bidang ekonomi, pendidikan, komunikasi, informasi, sosial dan lain-lain. Sehingga tidak heran jika teknologi di peradaban era industri 4.0 ini terutama dalam hal jaringan informasi dan komunikasi sangat berpengaruh dan berdampak dalam kehidupan manusia di dunia saat ini. Apalagi di abad 20 dengan munculnya kabar adanya pandemi virus covid-19 yang memberikan banyak sekali dampak di dalam kehidupan manusia khususnya dalam penggunaan teknologi digital dan virtual dalam hal hubungan bersosialisasi. Dari perkembangan teknologi ini tentunya banyak memberikan dampak ataupun efek bagi kehidupan. Walaupun kelihatannya perkembangan peradaban dengan ditandainya peningkatan penggunaan teknologi sangat memberikan efek dan dampak positif bagi manusia, akan tetapi disisi lain pasti banyak dampak buruk yang diakibatkan. Banyak sekali tantangan- tantangan yang harus dihadapi.   Untuk itu dengan berkembangnya peradaban di era ini kita semua kalangan terutama para pemuda dituntut untuk siap sedia dalam menghadapi perubahan era digitalisasi dalam segala bidang.  Apalagi seorang santri yang notabenya adalah seseorang yang dididik dengan al qur’an sehingga memiliki jiwa islami dan karakter yang berakhlakul karimah. 
    Secara umum santri merupakan sebutan bagi seseorang yang belajar agama islam (tafaqquh fiddin) di dalam pondok pesantren. Kehidupan Seorang santri di pondok pesantren pada dasarnya terkenal memiliki ciri khas pendidikan dengan penggunaan metode tradisional dan keadaan lingkungan yang tradisional serta penuh kesederhanaan di dalam menjalani kehidupan serta terlihat tertutup atau jauh dari jangkauan kehidupan luar. Akan tetapi pada kenyataannya jauh daripada  itu seorang santri juga bisa mengikuti perkembangan zaman. Apalagi di era sekarang ini dimana perkembangan zaman yang semakin pesat, seorang santri haruslah bisa beradaptasi menghadapi tantangan di era yang baru dan ikut serta melakukan perubahan menjadi lebih baik. Di dalam dunia pesantren haruslah dapat menghadapi era revolusi industri 4.0 ini. Walaupun pada awalnya beranggapan semua merupakan tantangan dan rintangan, namun hal ini harus bisa diubah menjadi suatu peluang emas bagi untuk melakukan perubahan dan pembangunan yang lebih baik. Tentunya, eorang santri di pesantren harus berproses dan berubah sesuai dengan kebutuhan masyarakat global dengan tidak meninggalkan tradisi lama yang masih dianggap baik.
    Di peradaban era revolusi industri 4.0 sekarang ini tantangan seorang santri sangatlah besar. Di samping harus menekuni kajian ilmu keagamaan yang sangat kental, seorang santri juga harus bisa mengimbangi dengan ilmu dan kemampuan intelektualnya. Santri dituntut untuk memiliki kreativitas dan intelektualitas yang luas yang bisa menggabungkan dunia dan akhirat yang artinya bisa menghadapi kehidupan dunia dengan baik akan tetapi juga tidak meninggalkan amal akhirat. Selain itu Santri harus mampu berpikir kritis terhadap perkembangan zaman di dunia ini. Santri harus bisa mempunyai kreativitas yang tinggi untuk membuat terobosan sesuatu yang baru. Santri juga harus mempunyai kecakapan komunikasi yang baik untuk menyampaikan gagasan yang baru.
    Sebagai seorang santri yang berpendidikan islam dan yang akan dicetak menjadi sosok generasi cendekiawan muslim dan juga generasi penggerak yang mempunyai wawasan islami dan karakter kebangsaan serta berakhlakul karimah haruslah bisa menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan. Sosok seorang santri sangat diperlukan untuk ikut serta berperan dalam menghadapi tantangan perkembangan peradaban ini dan membatasi adanya dampak buruk yang disebabkan dari adanya perubahan era. Seorang santri Sebagai benteng dasar di dalam menghadapi tantangan- tantangan yang ada dalam peradaban di era revolusi industri 4.0. Sebagai seorang santri millenial yang hidup di era peradaban revolusi industri 4.0 harus bisa menyeimbangan antara ilmu pengetahuan teknologi (IPTEK) dan iman dan taqwa (IPTAQ). Harus bisa membuktikan bahwa seorang santri bisa bersaing dalam menghadapi tantangan- tantangan di era ini. Sudah saatnya seorang santri millenial selain bisa mendalami ilmu agama tetapi juga bisa mendalami ilmu sains dan teknologi. Salah satu cara yang bisa dilakukan yaitu dengan membelakukan trensains (pesantren sains) yang digagas oleh Dr Agus Purwanto sebagai model pendidikan pesantren modern yang dapat melengkapi kekurangan sistem pendidikan pesantren yang ada. Karena, dalam trensains standar kopetensi lulusannya tidak hanya menguasai dan lancar berbahasa asing (arab dan inggris). Akan tetapi, juga piawai dalam sains dan memahami interaksi antara agama, sains dan teknologi.  
    Dalam menghadapi tantangan peradaban era revolusi industri 4.0 santri harus memiliki peranan penting agar bisa meminimalisir dampak buruk yang terjadi dengan adanya kemajuan teknologi ini. Di tengah peradaban era revolusi industri keempat ini santri harus memiliki jiwa yang berkompeten, kreatif, inovatif, dan adaptif terhadap nilai-nilai baru yang baik sekaligus teguh menjaga tradisi dan nilai-nilai lama yang baik.  Artinya walaupun sudah ikut serta berusaha berperan dalam mengikuti perkembangan peradaban zaman namun, juga tidak melupakan karakter, jati diri,  ciri khas dan kharismanya sebagai seorang santri.  

Posting Komentar

0 Komentar