Header Ads Widget

Ticker

6/recent/ticker-posts

PMII dari Masa ke Masa


(Sumber gambar: quiet.com) 


17 April 1960 adalah hari lahir PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), yang mana pada saat itu dipelopori oleh 13 orang. Perjalanan PMII cukup panjang mulai dari orde lama hingga pada saat ini. Banyak dinamika yang dilalui oleh PMII, mulai dari runtuhnya orde lama hingga juga turut berdosa dengan semua lembaga mahasiswa ekstra lainnya karena melahirkan orde baru dan juga menjadi salah satu organisasi yang berjuang menumbangkannya. Akhirnya lahir orde reformasi.

Perjalanan PMII dari masa ke masa tidak semulus yang dibayangkan, banyak hal yang harus dihadapi demi mempertahankan eksistensi organisasi di tengah-tengah pola sistem sosial dan politik yang terus berubah-ubah.

Berbicara tentang PMII tidak akan pernah lepas dengan NU (Nahdlatul Ulama). Pada masa orde lama contohnya, kader-kader muda NU yang pada saat itu disingkir-singkirkan akibat politik masyumi melalui underbow nya HMI, akhirnya membuat organisasi PMII yang penuh perjuangan prosesnya, karena pada saat itu NU juga baru punya badan otonom yang bernama IPNU. Ini juga sebab karena NU melepaskan diri dari Masyumi, karena pada saat itu orang-orang NU disingkir-singkirkan. Pada saat orde lama, NU adalah partai politik, karena pada saat itu belum kembali ke khittahnya.

PMII merupakan organisasi underbow NU baik secara struktural maupun fungsional, warna pekat NU yang waktu itu masih menjadi partai politik juga mempengaruhi pandangan PMII dalam bergerak. Arah gerakan PMII pun menjadi lebih terarah pada gerakan politik praktis, hal ini dibuktikan ketika PMII terlibat dalam politik praktis pada pemilu 1971 (orde baru). Sedangkan wilayah gerakan moral dan basis keilmuan yang menjadi cita-cita awal berdirinya PMII menjadi terlupakan.

Deklarasi (Independen) Murnajati (1972)
Situasi tersebut lama-kelamaan mulai meresahkan kader-kader PMII secara menyeluruh.kemudian dari perbincangan-perbincangan kader PMII berinisiatif untuk memisahkan diri dari NU secara struktural, maka diadakanlah musyawah besar pada tanggal 14-16 Juli 1972 di Malang, Jawa Timur, dan melayangkan deklarasi independen. Deklarasi ini kemudian dikenal dengan deklarasi MURNAJATI. Dengan adanya deklarasi ini, maka PMII secara formal-struktural berpisah dengan NU, dan membuka akses sebesar-besarnya sebagai organisasi independen tanpa berpihak dengan partai politik manapun.

Deklarasi (Independen) Penegasan di Cibogo (1989)
Pada tanggal 8 Oktober 1989, independensi ini dipertegas kembali pada Penegasan Cibogo, bentuk independensi merupakan khittah PMII dari cita-cita awalnya sebagai agen pembangunan dan modernitas bangsa, dengan menjunjung tinggi nilai-nilai etik dan moral serta idealisme yang dijiwai dengan ajaran islam ahlus-sunnah wal jama‟ah.

Deklarasi (Interdependensi) 1991
Pada pada tanggal 27 Oktober 1991 diadakan kongres ke-X PMII di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, PMII mendeklarasikan Interdependensi, yaitu adanya saling ketergantungan antara PMII dan NU, karena pada saat itu NU telah menyatakan kembali ke khittah 1926 pada kongres ke-27 di Situbondo, tahun 1984, dan tidak lagi menjadi organisasi partai politik. NU kembali sebagai organisasi yang menjunjung tinggi nilai-nilai dan norma ajaran islam di masyarakat dengan prinsip Aswaja, berpedoman pada Tawassuth, Tasamuh, Tawazun, Taadul, dan memegang semangat al-muhafadloh ala al-qodiimi Al-solih wa al-akhdu bi al-jadiidi al-aslah, dengan tetap berasaskan Pancasila.

Maka PMII pun menilai penting untuk saling menguatkan perjuangan tersebut dengan organisasi yang pernah melahirkannya, yaitu NU, meskipun secara struktur tetap bepisah.

PMII kembali ke NU
Ajakan untuk bergabung secara struktural sering kali dilontarkan oleh NU, puncaknya pada Muktamar NU ke-33 pada tanggal 01-05 Agustus 2015 di Jombang, Jawa Timur. Mulai saat itulah PMII secara structural kembali ke NU.

Bagaimana Gerakan PMII dari Masa ke Masa? 
Kembali ke masa orde lama. Dinamika politik di era rezim Orde Lama cukup pelik, GP Ansor mempunyai inisatif untuk menghimpun pemuda-pelajar Islam, sebagai sarana untuk tetap memperkokoh Ukhuwah Islamiyah di tengah goncangan politik saat itu, maka pada tanggal 19-26 Desember 1964, diselenggarakan Musyawarah pemuda-pelajar Islam di Jakarta, dan memutuskan untuk membentuk organisasi federasi pemuda yang dinamakan GEMUIS (Nasional Generasi Muda Islam). Dalam organisasi tersebut, PMII diberi kepercayaan sebagai Sekretaris Jendral Presidium Pusat yang dijabat oleh sahabat Said Budairy.

Keputusan lain yang dihasilkan musyawarah tersebut adalah usaha untuk melakukan pembelaan terhadap HMI yang akan dibubarkan oleh pemerintah menjelang meletusnya G.30.S.PKI, reaksi ini juga merupakan respon terhadap aksi-aksi PKI yang diwakilkan oleh CGMI (Consentrasi Gabungan Mahasiswa Indonesia), salah satu organisasi yang berafiliasi dengan PKI.

Pada tanggal 25 Oktober 1966, berdiri pula organisasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) atas koordinasi yang dilakukan oleh beberapa organisasi kemahasiswaan dengan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP), tujuan organisasi inti dibentuk untuk memberangus PKI dari bumi Indonesia. Sahabat Zamroni yang merupakan salah satu tokoh PMII diamanahi sebagai Ketua Presidium. Organisasi yang tergabung dalam KAMI diantaranya; PMII, PMKRI, GMNI. Selain sebagai pemimpin KAMI, Sahabat zamroni merupakan inisiator dari aksi demonstrasi mahasiswa tanggal 10 Februari 1966 yang menjadi salah satu kekuatan tumbangnya rezim Orde Lama.

Dengan Tumbangnya orde lama, maka Indonesia kembali lahir dengan wajah baru. Kalangan muda yang terlibat dalam sejarah ini disebut angkatan 66, dan perjuangan itu berkisar selama 60 hari, atau disebut 60 days that shook the word (60 hari mengguncang dunia), yang mana dikenal dengan Tri Tura (Tiga Tuntutan Rakyat).

Tidak berhenti di situ, pada tahun 1972, Organisasi-organisasi Mahasiswa membentuk aliansi yang bernama Kelompok Cipayung, di Cipayung, Jawa Barat. Kelompok ini awalnya hanya terdiri dari GMNI, HMI, PMKRI, GMKI. Namun, dua tahun berikutnya, pada tahun 1974, PMII turut andil sebagai bagian dari Kelompok Cipayung ini. Kelompok ini didirikan sebagai sarana pengawalan terhadap kesejahteraan rakyat Indonesia.

Pada masa orde baru ini pun banyak hal yang terjadi diantaranya adalah peristiwa Malari (malam lima belas januari), dalam penolakan perdana menteri jepang, banyak gerakan mahasiswa di babat oleh orde baru pada masa-masa ini.

Berbicara sejarah gerakan PMII tentunya juga terdapat paradigma dalam gerakannya. Sepanjang sejarah PMII dari Tahun 80an hingga 2010, ada 3 Paradigma yang telah dan sedang digunakan. Masing-masing menggantikan model paradigma sebelumnya. Pergantian paradigma ini mutlak diperlukan sesuai perubahan dengan konteks ruang dan waktu.

Paradigma Arus Balik Masyarakat Pinggiran
PMII mulai menata arah pergerakan secara teoritik dan sistematis semenjak masa kepengurusan sahabat Muhaimin Iskandar (Cak Imin) sebagai ketua umum PB PMII 1994-1997.

Paradigma ini muncul dikarenakan restrukturisasi yang dilakukan orde baru telah menghasilkan format politik baru, yang mana ciri-ciri umumnya tidak jauh berbeda dengan negara-negara kapitalis pinggiran (peripheral capitalist state) di beberapa negara Amerika Latin dan Asia. Intisari dari paradigma ini adalah rekayasa sosial, yakni dengan berbagai advokasi, kemudian memobilisasi massa untuk membuat sebuah gerakan yang dimulai dari paling bawah kemudian dikerucutkan keatas untuk merebut tampuk kekuasaan negara di zaman orde baru, yang mana pada saat itu dipimpin oleh Presiden ke 2 RI Soeharto (Almarhum).

Paradigma Kritis Transformatif (PKT)
Pada periode (1997-2000) sahabat Saiful Bahri Anshari sebagai ketua umum PB PMII ke-10, memperkenalkan sebuah paradigma baru yang menggantikan paradigma arus balik masyarakat pinggiran, yaitu Paradigma Kritis Transformatif (PKT). Prinsip-prinsip dasar paradigma ini pada hakikatnya tidak jauh berbeda dengan paradigma arus balik.

Di lapangan terdapat konsentrasi pola yang sama dengan PMII periode sebelumnya, yaitu terkonsentrasi pada aktivitas jalanan dan wacana kritis. Semangat perlawanan terhadap negara dan  kapitalisme global masih mewarnai gerakan PMII. Paradigma ini berlangsung ketika KH. Abdurrahman Wahid (almarhum) terpilih menjadi presiden ke-4 RI pada November 1999. Para aktivis PMII dan aktivis civil society umumnya mengalami kebingungan saat Gus Dur yang menjadi tokoh dan simbol perjuangan civil society Indonesia naik ke tampuk kekuasaan.

Aktivis pro-demokrasi mengalami kebingungan, antara mendampingi Gus Dur dari jalur ekstra-parlementer, atau bersikap seperti pada presiden-presiden sebelumnya. Mendampingi atau mendukung didasari pada kenyataan bahwa masih banyak unsur-unsur atau tokoh-tokoh dari orde baru yang memusuhi presiden ke-4 ini. dimasa kepengurusan Nusron Wahid (2000-2002) Ketua umum PB PMII ke-11 secara tegas terbuka mengambil tempat mendukung demokrasi dan reformasi yang secara konsisten dijalankan oleh Presiden Gus Dur. Namun pada akhirnya Gus Dur dilengserkan oleh sisa-sisa orde baru.

Paradigma Menggiring Arus, Berbasis Realitas
Sahabat Heri Harianto Azumi (2006-2008) Ketua umum PB PMII ke-13 membuat sebuah gebrakan baru, yaitu paradigma menggiring arus berbasis realitas, paradigma ini masih kental dengan nuansa perlawanan frontal, baik terhadap negara maupun terhadap kekuatan kapitalis internasional. Sehingga ruang taktis-strategis dalam kerangka cita-cita gerakan yang berorientasi jangka panjang justru tidak memperoleh tempat.

Pada Era ini kader-kader PMII masih mudah terjebak larut dalam persoalan temporal-spasial, sehingga perkembangan internasional yang sangat berpengaruh terhadap arah perkembangan Indonesia sendiri sulit dibaca. Dengan energi yang belum seberapa, aktifis PMII sering larut pada impian membendung dominasi negara dan ekspansi neoliberal saat ini juga.

Masa ini adalah masa dimana PMII agak sulit pula dalam menentukan arah, apalagi pada era sekarang yang sedang kita lalui saat ini, perkembangan Globalisasi dan Teknologi telah membuat gerakan Neoliberalisme cukup besar, PMII harus bisa memahami hal ini, bahwa negara saat ini sedang dalam keadaan yang cukup mengkhawatirkan.

Lantas Paradigma apa yang digunakan PMII Saat ini? 

Untuk paradigma pada kepengurusan PB PMII yang sekarang masih belum ada pembaharuan, dalam artian masih mengikuti paradigma sebelumnya dan belum berubah. Pada kongres akhir-akhir hampir ada gagasan perubahan paradigma, namun hal tersebut masih belum menemui titik temu. Memang jika dilihat dari kondisi zaman yang sudah berubah, sudah selayaknya PMII memperbaharui paradigmanya.




Penulis: Erlinda farah dan M. Asyrof naf'il (Kader 2019)
Editor: Vika Rachmania Hidayah

Posting Komentar

0 Komentar