Header Ads Widget

Ticker

6/recent/ticker-posts

RA. Kartini VS Kartini Millenial


Apa yang terlintas dalam benak sahabat-sahabati tentang tanggal 21 April? Ya, tentu saja tanggal tersebut sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia khususnya bagi kaum perempuan Indonesia. Tanggal 21 april adalah tanggal lahir seorang pahlawan perempuan yang berjuang untuk emansipasi wanita. Dia adalah Raden Ajeng Kartini atau biasa dipanggil Kartini. Kartini adalah putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosrodiningrat dan Ngasirah. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 saudara kandung dan tiri. Kartini dapat menikmati bangku pendidikan di ELS (Europese Lagere School) sampai usia 12 tahun. Di sekolah itulah Kartini belajar bahasa belanda. 

Tragisnya, Kartini menikmati bangku sekolah hanya sampai usia 12 tahun karena pada saat itu sudah waktunya menerima masa pingitan, yaitu masa dimana seorang gadis atau raden ajeng harus dikurung di kamar dan tidak boleh keluar rumah hingga ada laki-laki yang melamarnya. Kartini merasa sangatlah jenuh harus berdiam diri di dalam kamar selama berhari-hari. Setelah beberapa waktu, kakaknya yang bernama Sosrokartono mulai menunjukkan perannya dalam kehidupan Kartini. Sosrokartono memberinya motivasi sekaligus memberikan solusi tentang kejenuhan Kartini selama dalam masa pingitan. Kartini diminta untuk membaca buku-buku yang dimiliki Sosrokartono. Kartini mendapat sebuah motivasi dari sebuah buku yang dibacanya tentang keadaan perempuan di Eropa. Dalam buku tersebut diceritakan ada seorang  perempuan yang terkenal cerdas dimuka hukum dan perempuan tersebut sangat disegani. Namun perempuan tersebut ternyata juga menikah dan mempunyai seorang anak. Dari perempuan itulah Kartini mulai memikirkan bahwa kaum perempuan mempunyai hak yang sama seperti laki-laki. 

Pada saat itu, budaya patriarki yaitu budaya dimana laki-laki mendominasi kehidupan perempuan sangatlah kental di kalangan bangsa Indonesia. Perempuan pada saat itu tugasnya hanyalah berdandan (macak), beranak (manak), dan memasak (masak). Namun Kartini merasa itu semua tidak adil. Perempuan juga layak untuk disegani seperti perempuan-perempuan di Eropa. Perempuan juga layak berperan seperti laki-laki. Sosrokartono kembali memberikan nasehat kepada Kartini tentang ilmu itu tidak akan gunanya jika untuk pribadi. Akan tetapi ilmu itu akan sangat berguna jika dibagikan kepada yang lain. Dari nasehat itu, Kartini mulai membagikan ilmunya ke adik kandung dan adik tirinya yang bernama Kardinah dan Roekmini. 

Kardinah dan Roekmini senantiasa ikut menemani Kartini memperjuangkan hak-hak perempuan yang ditindas oleh laki-laki. Melalui tindakannya, Kartini membuktikan bahwa perempuan adalah kaum yang setara dengan laki-laki. Dalam hal perekonomian Jepara, Kartini juga ikut serta memikirkan bagaimana masyarakat Jepara dapat hidup dengan makmur dan sejahtera. Kartini ingin hasil karya dari tanah kelahirannya dapat dikenal oleh masyarakat umum. Kartini ingin memamerkan hasil karya ukiran masyarakat Jepara dan juga batik hasil buatannya. Untuk mengaktualisasikan itu semua banyak sekali cobaan yang dihadapi Kartini. Salah satunya adalah saudara tirinya yang bernama Sosrobusono yang selalu menentang atau mengejek usul dari Kartini. 

Ketika itu Kartini tidak tinggal diam, Kartini selalu mempunyai tekad agar keinginannya dapat diaktualisasikan. Bahkan Kartini hingga bertemu dengan pengukir dari Jepara untuk meyakinkan pengukir tersebut karena pada awalnya masayarakat takut untuk mengukir wayang dan sangat pesimis dengan hasil ukirannya. Kartini pun selalu mendampingi pembuatan karya ukiran tersebut. Hingga suatu hari, ada yang melaporkan bahwa pengukir tersebut telah sukses dan banyak yang memesan ukirannya. 

Di dalam kehidupan sosial secara umum, Kartini ingin memajukan pemikiran perempuan Jawa. Kartini ingin agar perempuan memperoleh kebebasan seperti laki-laki. Kartini mulai mengajari perempuan dan anak anak disekitarnya untuk membaca dan menulis. Kartini kini mendapat julukan pahlawan emansipasi wanita dan menjadi motivator bagi kaum perempuan masa kini. Bahkan berkat kegigihan Kartini, didirikanlah sekolah wanita yang diberi nama “Sekolah Kartini”. 

Bagaimana dengan Kartini Millenial?
Pada era sekarang, sudah banyak gerakan-gerakan yang memperjuangkan hak-hak perempuan dan kajian tentang pentingnya kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Berbicara tentang perempuan di era sekarang, mereka tidak hanya berdandan, mengurus anak, dan masak saja hanya sekedar bergelut di ranah domestik. Akan tetapi, sekarang sudah banyak perempuan yang terjun ke ranah publik dengan berkarir dan memiliki jabatan atau posisi strategis dalam instansi bahkan Negara. Perempuan membuktikan bahwa mereka juga mampu menjalankan peran yang sebelumnya selalu diperankan oleh laki-laki. 

Kita dapat menyaksikannya sendiri bahwa perempuan saat ini, sangat tidak bergantung dengan laki-laki. Mereka dapat menentukan pilihannya sendiri dengan leluasa sesuai kehendak mereka secara merdeka. Pada masa sekarang, perempuan telah mampu keluar dari konstruksi yang menindas akibat kebudayaan yang patriarki. Namun yang sangat dikhawatirkan adalah ketika kesetaraan tersebut melebihi batas. Misalnya, perempuan lebih mementingkan karir daripada berperan seperti layaknya ibu yang selalu menemani tumbuh kembang anaknya. Meskipun dalam konteks mengurus anak adalah kewajiban perempuan dan laki-laki, tetapi tetap saja tumbuh kembang anak juga bergentung dari kasih sayang yang diberikan sosok ibu dari anak tersebut. Jika perempuan hanya mementingkan karir di luar dan melupakan perannya di ranah domestik, maka semakin lama justru perempuan akan mengalami ketertindasan baru, yaitu penindasan atas pekerjaannya. 


Maka dari itu, perempuan harus dapat memposisikan diri kapan mereka berperan dalam ranah domestik dan kapan berperan dalam ranah publik sesuai dengan proporsi yang tepat. Hal ini bukan berarti perempuan menyandang sebagai kaum yang mempunyai gelar “peran ganda” tetapi peran menjadi ibu juga sangat dibutuhkan agar dapat melahirkan generasi yang unggul dan berakhlak. Disinilah letak keistimewaan dari perempuan, karena dari lahir dan didikannya dapat memunculkan anak yang hebat. Dan itu sangatmembutuhkan tenaga yang ekstra serta membutuhkan kecerdasan yang luar biasa agar bisa menjalankan peran tersebut. 

Lalu, perjuangan seperti apa yang dapat dilakukan sebagai Kartini Millenial?
Perempuan zaman dahulu berjuang melawan ketertindasan terhadap laki-laki, bahkan ikut berperang melawan penjajah. Akan tetapi, hal tersebut sangat tidak relevan jika diterapkan untuk perjuangan perempuan di era sekarang. Perempuan mempunyai peran domestic yang salah satunya adalah mendidik anak. Dalam pepatah Arab mengatakan bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya. Artinya perempuan akan menjadi pendidik pertama bagi anaknya. Untuk menjadi pendidik tersebut tentu membutuhkan ilmu yang lebih atau wawasan yang luas agar anaknya dapat menjadi pribadi yang cerdas. Penulis pernah mendengar “ibu yang hebat akan melahirkan anak yang cerdas.” Dalam konteks “hebat” pastilah mengandung arti yang sangat luas. Hebat dalam pemikirannya, hebat dalam setiap tindakannya, dan hebat dalam kelembutan hati dan budinya. Ibu yang hebat tersebut pastinya dapat melahirkan sosok anak yang cerdas secara intelektual, spiritual dan emosional serta mempunyai karakter luruh yang akan menjadi generasi emas bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, pesan penulis untuk perempuan saat ini, rajinlah membaca buku, kunjungilah kajian-kajian ilmu, bertemanlah dengan siapa saja, ikutilah berbagai organisasi dan komunitas, pandai-pandailah mengolah rasa, bergeraklah dengan melawan ketertindasan, agar nantinya ketika menjadi ibu akan menjadi ibu yang hebat dan tentunya akan melahirkan anak  yang cerdas harapan bangsa.




Penulis: Muhammad Marzuqi (Ketua Rayon Sains dan Teknologi Masa bakti 2019-2020)
Editor: Vika Rachmania Hidayah (Sekretaris Biro Advokasi Rayon Sains dan Teknologi Masa bakti 2019-2020)

Posting Komentar

1 Komentar

Financial by Setyo mengatakan…
Waaahhh keren sahabat