Header Ads Widget

Ticker

6/recent/ticker-posts

REMBUK BUKU ‘PEREMPUAN DI TITIK NOL’

Cover perempuan di titik nol

REMBUK BUKU ‘PEREMPUAN DI TITIK NOL’

Oleh: Rina Ayu Agustina
Pemantik: Sahabati Elina Lestari
Kamis, 30 Januari 2020
Cantik bukan melulu tentang paras, namun otak pun juga perlu dipercantik

Judul buku : Perempuan di Titik Nol
Pengarang : Nawa El Sadawi
Peneribit : Yayasan Obor Indonesia
Tahun Terbit : 2002

PMII Rayon Sains dan Teknologi menggiatkan rembuk buku tentang pemahaman buku perempuan di titik nol. Rembuk buku ini mencoba brainstorming dengan mengulas alur ceritanya.

Buku bergenre novel ini mengisahkan kisah gelap dan pilu yang dihadapi oleh perempuan-perempuan Mesir di tengah kebudayaan Timur Tengah dengan balutan budaya patriarki yang masih begitu kental. Budaya patriarki dimana perempuan mendapat ketimpangan hak dan tidak pernah mendapat hak yang sama dengan laki-laki, dengan kata lain perempuan dituntut untuk mengabdi sepenuhnya kepada laki-laki.

Kebudayaan bangsa Arab yang masih begitu kental dengan patriarkal ini membawa Nawa El Sadawi untuk mengangkat sebuah cerita yang mengisahkan peliknya kehidupan perempuan disana. Perempuan mendapat berbagai tindak diskriminasi, mengalami ketimpangan hak, menjadi manusia nomor kedua setelah laki-laki, tidak terjaminnya kebebasan hak perempuan atas politik, pendidikan, ekonomi, dan pengambilan keputusan, serta senantiasa mendapat kekerasan fisik.

Nawa El Sadawi membawa pembaca untuk dapat merasakan sedih, sakit, perih, derita, serta ketidakadilah yang diterima perempuan. Perlakuan-perlakuan yang tidak memanusiakan manusia dan tidak pula memuliakan perempuan. Dimana perempuan selalu mendapat setereotype dan subordinasi dalam konstruk sosial masyarakat.

Firdaus tokoh utama yang diceritakan hidup ditengah keluarga miskin dan kental dengan balutan patriarki.  Sejak kecil firdaus sudah kerap kali mendapat tindakan pelecehan dan kekerasan seksual dari laki-laki. Setelah ibu Firdaus meninggal, Firdaus diperlakukan layaknya pelayan rumah tangga pengganti ibunya oleh ayah Fiirdaus sebagaimana ayah mempunya peranan dominan dalam keluarga.

Sejak kecil, Firdaus telah mengalami pelecehan seksual oleh teman sepermainannya yaitu Muhammadain, namun dengan pikiran polosnya dia tidak tau akan hal tersebut merupakan tindakan yang tidak senonoh. Sepeninggal mati orang tuanya, Firdaus lalu diasuh oleh pamannya yang sedang studi di al-azhar. Tindakan pelecehan sering didapat Firdaus dari pamannya sejak kecil. “saya melihat tangan paman saya bergerak-gerak dibalik buku yang sedang ia baca menyentuh kaki saya. Saat berikutnya saya merasakan tangan itu menjelajahi paha saya.” (Nawa El Sadawi, 2002, h. 20). Diperlakukan seperti inilah yang membentuk diri firdaus sebagai perempuan pelacur.

Firdaus dipaksa untuk menikah dengan syekh mahmoud dikarenakan istri dari pamannya ini tidak suka dengan keberadaan Firdaus di rumah mereka. Syekh Mahmoud yang berperangai tua, kasar, kikir, dan kotor tapi kaya raya itu membuat paman dan istrinya tega menikahkan Firdaus dengan Syekh Mahmoud karena mahar yang besar. Karena Keseringan disiksa dan mendapat tindakan kekerasan seksual oleh suaminya Firdaus lebih memilih untuk kabur karena merasa sengsara dipukuli tiap hari dan dipaksa untuk berhubungan seksual.

Sudah menjadi hal yang lumprah dalam budaya patriarki, perempuan hanya dijadikan objek perlakuan yang sewenang-wenang dan mendapat kekerasan. Lumprah dan sudah menjadi kebiasaan pula apabila laki-laki atau suami memukul istrinya. Bahkan paman Firdaus pun sering memukuli istrinya, dan Firdaus meilihatnya hampir setiap hari. Pengalaman yang dialami Firdaus dijadikannya sebagai pelajaran bahwa identitas perempuan hanya dijadikan objek kesewenang-wenangan laki-laki terhadap perempuan dan pembentukan identias perempuan. Akibat dari pengalaman yang dialami mencetak pola pikir Firdaus dan membentuk identitas dirinya sebagai perempuan pelacur. Yang mana dengan menjadi pelacur, Firdaus mampu merasa bebas beraktivitas sebagai perempuan tanpa diperbudak jika menjadi istri.

Orientasi seksualnya berubah ketika berada di al-azhar atau biasa disebut biseksual sebab adanya kekecewaan dengan laki-laki. Kerap kali Firdaus menemukan kenyamanan ketika bersama dengan perempuan lain, tanpa sadar bahwa dia merasakan kenikmatan ketika berada dekat dengan perempuan. Selain di tempat studinya, ketika di tempat kerjanya pun ia merasakan hal yang sama pula, yaitu kenikmatan ketika bersama dengan perempuan. Sejatinya, Firdaus merupakan perempuan yang cerdas, hingga pada akhirnya ia tak mau lagi diperbudak dan menjadikan dirinya sebagai perempuan dengan nilai jual tinggi dengan berhubungan badan dengannya.

Kesan yang ditangkap saat membaca buku ini sampai selesai ialah berpegang teguh pada prinsip dan cepat dalam pengambilan keputusan, sedih, miris, kagum dengan sosok tokoh Firdaus yang bernai mengambil keputusan merdeka atas dirinya, kasihan lalu bersyukur karena keadaan di Indonesia khususnya tidak semiris kebudayaan Timur Tengah, khawatir jika pembaca tidak dibekali ilmu tentang gender maka pola pkirnya akan terbelok, dan diceritakan secara vulgar kegiatan yang cenderung amoral di masyarakat, serta berpikir bahwa bukan berarti setuju apabila pelacur merupakan pekerjaan yang bijak.

Gagasan yang muncul terkait isi buku ini adalah
1. Budaya patriarki sampai sekarang masih menjadi hal yang lumprah. Perempuan tercap bahwa perempuan itu hanya berada diranah domestik. Dari sinilah baik laki-laki maupun perempuan perlulah untuk saling paham gender.
2. Menggambarkan kehidupan perempuan yang selalu dinomor duakan, adanya relasi kuasa karena budaya patriarki. Pelecehan dan kekerasan bisa terjadi pada dan oleh siapa saja meskipun orang terdekat. Terkena tindakan pemerkosaan lalu terdampak adanya traumatis, perlu dicamkan bahwa perempuan itu bisa dan dapat memilih.
3. Bahwa perempuan digambarkan sebagai sosok yang lemah dan harus manut pada laki-laki. Dari sudut pandang laki-laki, tidak setuju karena merasa miris disebabkan tidak terima perempuan di perlakukan dengan tidak seharusnya.
4. Meskipun lelaki punya kekuatan tapi tidak harus memerlakukan perempuan demgan kekuatannya.
5. Suatu perlakuan terhadap perempuan yang dilakukan oleh laki-laki harus mencontohkan hal yang baik kepada lingkungan nya. Meniru tradisi dan budaya sebelumnya, dan melakukan apa yang dilihat itulah yang dicontoh. Maka dari itu perlulah mencotohkan dan menjadikan tradisi kepada lingkungan yang baik, dan saling memahami adanya gender.
6. Tidak jauh beda dengan keadaan sekarang yang terkait dengan kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, pelecehan seksual menjadi trend kasus di Jawa Tengah karena terdapat relasi kuasa terdekat. Sehingga pelaku berkemungkinan besar adalah orang yang memiliki relasi terdekat dengan diri perempuan itu sendiri. Oleh karena itu, tidak mampu membawa kepentingan perempuan untuk diselesaikan.

Refleksi   

Indonesia, budaya patriarki tidak se-ekstrim di Timur Tengah. Di Timur Tengah laki-laki di doktrin bahwa harus tegas dan keras. Menarik kesamaan budaya patriarkal, secara intuitif lebih cenderung memilih laki-laki sebagai pemimpin dibanding perempuan. Oleh sebab itu, Gusdur mendatangkan gagasan mainstreaming gender. Semua lini kehidupan saat ini berperspektif gender. Kebutuhan perempuan dan laki-laki itu berbeda. Perempuan berkebutuhan untuk Menstruasi, mengandung, melahirkan, menyusui, menopause. Tidak melibatkan perempuan dalam kebijakan juga termasuk diskrimasi yang jauh.

Sudut pandang memengaruhi kehidupan, perempuan merasa terkerdilkan dan mampu membungkam perempuan untuk tetap berkembang apabila pemahaman gender belum bisa tersebar luarkan dengan baik. Kondisi abnormal yang seperti saat ini hanyalah buatan masyarakat, mencetak identitas perempuan dan laki-laki sebagaimana rupa yang masyarakat itu ingnkan. Sudut pandang orang bergantung pada pengalaman dan ilmu pengetahuan yang dipunya. Semakin luas pandangan, pengalaman, dan pengeahuan maka semakin luas pula pandangan hidupnya terhadap orang lain tanpa harus menjatuhkan satu sama lain.


Posting Komentar

0 Komentar